
Keterkekangan kita pada rutinitas terkadang membuat kita lupa hal tentang kita sendiri. Siapa diri kita sebenarnya, siapa saja orang yang benar - benar kita butuhkan, apa tujuan hidup kita.
Siang itu, di warteg yang sudah menjadi langgananku, dengan semangat menggebu ku habiskan makanan yang telah ku pesan. Penat ditambah lapar yang amat membuat tubuh ini meminta dengan segera pengganti energi yang telah dikeluarkan setengah hari ini.
Tak ada hal yang istimewa saat itu. Konsentrasi tetap ku pusatkan pada makanan yang telah ku pesan.
Kemudian orang itu datang.
Seorang pria berjaket hitam yang membawa tas kecil bersamanya.
Kehadirannya tak kuketahui, namun suara ibu pelayan warteg yang terdengar tidak biasa, membuatku ogah2an menengokkan wajahku pada sosok itu.
Dia di sebelah kananku. Dipisahkan satu bangku kosong tepatnya.
Ibu pelayan warteg rupanya bertanya mengenai sisa hutang dari barang yang dikreditnya dari pria itu. Dengan suara cukup keras, nampaknya itu bukan sebuah percakapan yang biasa.
Sembari melanjutkan menikmati santap siang, ku tetap mendengarkan percakapan mereka. Namun yang terdengar olehku hanya percakapan dari satu sisi saja. Sang pria sepertinya tidak meladeni apa yang ditanyakan ibu pelayan warteg.
Penasaran, ku tengokkan wajah ini dengan sempurna pada pria tersebut. Wajahnya menghadap ke arah jalanan, sehingga sulit bagiku melihatnya.
Namun ada suara yang bisik - bisik terdengar. Dia berbicara dengan pelannya, sehingga dengan suara keras ibu pelayan warteg kembali menanyakan apa yang telah dikatakannya. Sepertinya pria tersebut masih baru, hingga masih belum berani bersuara keras pada orang yang dikreditkannya.
Dalam hati ku berkata, untuk kalangan penagih kredit-an seperti dia, dia benar2 tidak bisa memposisikan diri. Pembicaraan normal saja suaranya tidak terdengar, bagaimana bila ada pelanggannya yang menunda2 pembayaran kreditnya.
Namun dengan segera ku berujar istigfar. Makanan yang masih setengah piring, ku habiskan dengan perlahan. Kemudian segera ku pulang ke kost.
Mengambil handphone, ku ketik:
Bi, itah bangga ma abi
Mi, itah sayank ma umi
Kemudian dengan segera ku ambil wudhu dan shalat Dzuhur.
Ayah dan Ibu ku juga dulu seorang tukang kredit. Aku pernah hidup dari hasil tagihan kredit-an.