My Blog List

100 Tahun Kebangkitan Indonesia

0 comment
Oke. Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Indonesia. Tema yang paling banyak diutarakan akhir-akhir ini. Jadi kepincut juga ingin coba membahasnya.

Saya kagum dengan puisi yang dibacakan oleh Om Dedy Mizwar. Saya juga terharu oleh iklan Sampoerna Corporation. Begitu juga dengan beberapa kata dan rasa yang diutarakan oleh pengembang-pengembang iklan yang lainnya. Tapi Om Dedy Mizwar lebih mengena, suer..

Oke. Langsung mulai deh..

100 Tahun Kebangkitan Indonesia. Maksudnya apakah 100 tahun lalu kita telah bangkit, atau selama 100 tahun kita telah bangkit, atau kita hanya bangkit selama 100 tahun, atau kita hanya akan bangkit tiap 100 tahun..

Jujur, sulit untuk saya melanjutkan bila hal yang satu ini tidak tergambar. Tidak terdefinisi. Akan sangat kabur maknanya bila saya hanya membuat definisi yang jauh dari intinya.

Dan ternyata masalah definisi juga dapat menentukan bahwa suatu bangsa itu telah bangkit atau bukan. Banyak contohnya, banyak pula korbannya..

Jadi, maaf banget. Saya belum dapat mengembangkan post yang satu ini selama definisi yang dimaksud belum ditemukan. Saya cuma tidak mau anda atau saya salah paham gara-gara definisi yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, sebagai kaum yang lemah definisi, saya amat berharap pada para pembaca agar dapat mengirimkan comment kepada saya tentang masalah definisi ini. Saya tunggu comment dari anda..

Ko jadi ngawur ya? Pokoke, kesimpulan dari post yang satu ini cuma satu, jika anda telah mengerti tentang puisi yang dibacakan oleh Om Dedy Mizwar, maka anda telah mengerti apa yang ada dalam kepala saya saat ini. Sebuah semangat membara yang kembali memunculkan proses untuk memunculkan kata yang terakhir..

Bangkit itu Aku, untuk Indonesiaku..

BBM Naik..

0 comment
Banyak sekali berita yang menayangkan demo besar-besaran agar harga BBM tidak naik dibalik pemerintah yang sedang mengadakan rapat tentang penarikan subsidi BBM ini. Alasannya tentu mudah, masyarakat tidak menginginkan adanya kenaikan harga juga pada berbagai sektor perdagangan di Indonesia, terutama pada sembako. Beberapa bukti sudah menggambarkan bahwa rencana pemerintah ini kurang efisien. Terlihat sekali telah terjadi kenaikan harga diberbagai sektor perdagangan, padahal penarikan subsidi BBM pun belum diputuskan. Aneh bukan?

Mari kita bicara dari sisi pemerintah. Pemerintah beralasan agar keuangan pemerintah tidak terkuras untuk terus mensubsidi masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga minyak dunia. Ini juga dimaksudkan agar masyarakat yang ingin menghabiskan minyak subsidi hanya untuk tujuan hura-hura belaka agar dapat berpikir beberapa kali. Disinilah kemudian terkuak sebuah realita bahasa yang selama ini salah terucap dari mulut kita. Pemerintah bukan akan menaikkan harga BBM! Tetapi menarik subsidi BBM! Dengan kata lain, kita akan dihadapkan dengan harga BBM yang sesungguhnya yang memang sudah mahal dari sononya. Dapatkah kita berkelit? Disisi lain pemerintah ingin melaksanakan apa yang telah dituntut oleh masyarakat, dana APBN 20% untuk pendidikan, walau kita tidak dapat menjamin apakah hal itu dapat terlaksana apa adanya.

Giliran kita berbicara dengan dari sisi masyarakat. Alasannya bahwa harga barang-barang dimasyarakat akan otomatis naik saat terjadi kenaikan harga BBM. Realita. Memang benar terjadi. Terutama pada harga barang-barang sembako, kenaikannya dapat mencapai 80%. Tentunya kita tidak akan mau bila hal itu sampai terjadi.

Oke. Giliran kita yang berbicara dari sisi kita sendiri. Hmm.. Kurang tepat bahasanya. Mari kita bicara.. Subsidi.. Apakah anda tau makna daripada subsidi? Subsidi, potongan harga, diskon, atau kalo kita memang ingin jujur, harga kasih sayang. Dari sana kita dapat menyimpulkan bahwasannya selama ini masyarakat Indonesia telah diberi kasih sayang dalam masalah harga! Terutama BBM! Mau dikasihani terus? Masa sok-sok-an punya mobil, motor, tapi masalah BBM dikasihani gitu sama pemerintah? Apa kita tidak mau bangun bersama dengan kemungkinan keputusan pemerintah ini? Apa jawaban anda? Apa jawaban kita?

Sekarang giliran orang lain yang membicarakan kita. Ngomong apa sih lu?

Nomor Merah??

1 comment
“Perhatian!! Bila anda menerima call dari nomor yang berwarna merah dan nomor 0666 atau 0866, jangan diangkat atau di-reject! Bila diangkat, anda akan menjadi tumbal orang lain, dalam arti lain akan tewas seketika, dan bila anda me-reject-nya, darah anda akan disedot oleh sang dukun ‘nomor merah’.”

Kemudian,

“Dimohon untuk tidak mengaktifkan hp anda pada jam 09.00 sampai 14.00, karena radiasi frekuensi infra red ‘nomor merah’ pada jam tersebut sangat tinggi hingga dapat merusak syaraf, bahkan kematian.” (11 May 2008)

Oke. Itu berita yang saya dapat baru-baru ini. Sebuah berita yang sangat mengerikan, menakutkan. Tentunya ketakutan itu mungkin akan terjadi bila anda memang sedang tidak ingin mati bukan? Berbeda dengan orang-orang yang depresi, mereka justru (mungkin) menganggap ini adalah berkah, sebuah kesempatan untuk mati secepatnya dibalik larangan untuk bunuh diri.

Entah apa yang dimaksud dengan ‘nomor merah’ tersebut, tujuan dan cara penyebarannya, tapi saya sendiri menangkap sebuah pesan terselubung, yang aneh, dalam kejadian ini.

Pertama, menurut teman-teman satu skul, ‘nomor merah’ bukanlah makna konotatif, tapi lugas. Nomor yang akan keluar pada saat menelepon memang merah, begitu. Tapi alhamdulillah, karena saat ini otak saya masih berpikir logis, maka saya dapat langsung menarik keanehan disini. Nomor merah. Makna lugas. Nomornya merah. Sedangkan bila kita memakai Nokia 1100 dan kawan-kawannya (yang masih monokrom), tentunya kita tidak akan pernah menemukan nomor merah atau nomor yang berwarna lainnya bukan? Beruntung untuk orang-orang yang masih memakainya. Begitu pula dengan Nokia 3120 yang saya punya. Setahu saya sendiri fitur GPRS dan xHTML-nya sudah tertinggal jauh dengan tipe handphone keluaran terbaru. Bila maksud sang dukun ‘nomor merah’ ingin mencari tumbal dengan membombardir nomor-nomor acak, maka pasti yang dicari adalah tipe handphone yang paling banyak memiliki GPRS dan xHTML yang sama, agar script-script tertentu yang dikirimkan dengan tujuan agar handphone tersebut dapat mengeluarkan nomor panggilan dengan warna merah. Tipe yang paling laris didunia adalah tipe 1100 dkk, sedangkan tipe tersebut dapat dibilang tidak memungkinkan untuk memunculkan nomor dengan warna merah, berarti hanya tinggal tipe yang kurang laris, yakni tipe menengah (Nokia 3120 dkk atau yang belum memakai OS) dan tipe terbaru (diatas Nokia 3120 dkk atau mungkin yang memiliki OS). Sedangkan tipe yang paling banyak saya temui adalah tipe dengan GPRS 10 dan xHTML yang lebih canggih dari Nokia 3120 saya, berarti salah satu kelompok ini (Nokia 3120 dkk atau tipe yang lebih canggih, mungkin yang ber-OS) pasti yang diincar dukun ‘nomor merah’ tersebut.

Kedua, angka 0666 atau 0866 yang diduga merupakan salah satu ‘nomor merah’. Padahal yang saya ketahui, nomor-nomor pendek seperti itu tidak bisa digunakan untuk menelepon atau ditelepon, bukan begitu? Begitu pula bila nomor-nomor pendek seperti ini digunakan untuk mengirim pesan via text, nomor-nomor seperti ini pasti telah terdaftar. Seperti kode alamat suatu perusahaan pada saat kita melayangkan surat pengaduan atau saat mengirim undian tertentu, atau yang lebih kita kenal dengan istilah PO BOX. PO BOX ini juga didapat dengan mendaftar terlebih dahulu pada PT Pos Indonesia.

Ketiga, pada berita yang kedua dinyatakan bahwa frekuensi infra merah akan semakin besar. Padahal kita ketahui bahwa frekuensi infra merah memang segitu, tidak akan pernah bertambah. Bilapun bertambah, maka itu bukan sinar infra merah lagi! Lagi pula sinar infra merah memang dari dulu diketahui dapat mengakibatkan kerusakan syaraf, sama seperti sinar-sinar yang berbahaya lainnya, tetapi tetap saja, kerusakan tersebut akan terjadi bila infra merah tersebut mengenai tubuh kita dalam waktu yang cukup lama. Kemudian juga, banyak handphone yang tidak memiliki fitur ini, mungkin perbandingannya 50:50 dengan handphone yang memilikinya. Jumlah yang sedikit. Tetapi jumlah itu memang benar-benar sedikit karena jumlah tersebut belum dibandingkan dengan jumlah pengguna yang masih menggunakan handphone monokrom dan handphone klasik (tanpa bluetooth dan inframerah), yang mungkin bila ditotal, jumlah tersebut menjadi 1:4 atau seperempat dari seluruh handphone yang dipakai. Begitu bodohkah sang ‘nomor merah’ bila menggunakan fitur handphone yang satu ini? Kalaupun ada yang bilang sang dukun bisa melakukan sesuatu yang hebat sehingga bisa mengeluarkan infra merah dari handphone tipe apa saja, coba bantu saya berpikir, bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa sumber cahaya infra merah tersebut? Dari mana keluarnya, gitu..

Keempat, istilah ‘dukun’ terkesan kurang pas. Dukun. Paranormal. Orang pintar. Tapi dalam kenyataan dukun ialah sesosok manusia yang tak lepas dari asap menyan dan dupa. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan teknologi. Jadi apakah ‘dia’ memang benar-benar ‘dukun’? Ataukah ia hanyalah orang-orang yang mencari masalah dengan kemampuan teknologinya? Ataukah kompilasi dari keduanya? Bilakah memang ia adalah dukun yang juga mempunyai kemampuan teknologi, mengapa harus repot-repot mencari tumbal dengan cara seperti ini? Bukankah teknik mencari tumbal oleh dukun-dukun terdahulu juga sukses walau tanpa menggunakan cara-cara seperti ini? Apakah dia ingin mencari sensasi? Agar dia dapat diakui oleh para dukun-dukun yang lainnya?

Kelima, mengapa justru kita harus melakukan pe-nonaktif-an handphone massal pada waktu-waktu tertentu? Apakah pada waktu tersebut memang akan terjadi pertambahan frekuensi sebagai hasil aksi sang ‘nomor merah’? Ataukah sebagai pengalih perhatian agar pihak-pihak tertentu bisa dengan leluasa menggunakan bandwith selular sebesar-besarnya untuk kepentingannya sendiri?

Kemudian terdapat pula update tentang berita ini. Ternyata selain ‘nomor merah’ ini menhubungi via voice, dia pun mencoba menghubungi kita via text (sms). Sama seperti cara pendahulunya, dia tetap tak menghilangkan identitasnya, warna textnya tetap merah! Tapi dengan penjelasan diatas, sepertinya cara ini pun terbilang mustahil untuk dilakukan. Impossible..

Pada akhirnya, berpikir nyaman dalam sebuah kekangan mental seperti ini, nomor merah, adalah sebuah hal yang sulit. Pada saat post ini ditulis pun (11 May 2008), handphone disampingku terus berdering, menandakan ada sms masuk, terus menerus. Menanyakan padaku. Kenapa handphoneku masih nyala, padahal sudah ada anjuran untuk me-nonaktifk-an. Ku jawab. Ga, biasa ja, gue ga sombong, gue ga naif, gue ga takut mati, karena gue lagi asyik menulis post tentang ‘nomor merah’ itu sendiri, menantang sang dukun dengan congkaknya, mencoba bertukar pikiran dengan kalian dengan mem-post-nya didunia cyber. Bagaimana dengan anda?

Pemerintah vs Masyarakat..

0 comment
BBM NAIK!!
SEMBAKO NAIK!!
PHK DIMANA-MANA!!
NAIKKAN GAJI!!
PEMERINTAH BEGO!!
TOLOL!!

Yang bego dan tolol tu pemerintah ataukah masyarakat yang bersangkutan? Salah satu berita yang masih hot sekarang ini adalah, demo besar-besaran pada hari buruh sedunia. Apa yang mereka tuntut? Kenaikan gaji! Jujur, kalau saya yang jadi direktur perusahaan itu, saya akan pecat mereka yang terlibat didalamnya, terserah siapa yang mendalangi dan didalangi, semuanya sama, bodoh dan mau dibodohi!

Buruh aja mau sok-sok-an demo. Toh apa yang mereka tuntut aja kadangkala mereka ga tau. Kalau tuh buruh mau mikir sedikit, coba, apa sudah mereka tambah dalam pekerjaan mereka sehingga mereka GR mau nambah gaji. Kalo memang semua harga kebutuhan pokok naik, palagi dihari yang segalanya jadi susah begini, ga usah sok-sok-an demo, coba beresin masalahnya dengan baik-baik dengan atasan anda, ga usah senewen gitu.

Banyak berita yang memberitakan bahwa saking ‘kekeh’nya tu buruh, mereka malah pake acara mogok kerja. Jujur lagi, kalo saya yang jadi bos-nya, saya akan memecat mereka semua, kasih pesangon, trus cari lagi pegawai yang mau bekerja dengan saya dengan benar, tanpa nglakuin sesuatu yang aneh-aneh yang dapat membuat nama perusahaan tercoreng. Gimana dengan perusahaan, lembaga, atau mungkin organisasi yang anda pimpin?

Ahmadiyah is Hypocrites

1 comment
Terdengar banyak berita di televisi yang begitu membanggakan istilah Hypocrites yang baru, Ahmadiyah. Istilah ini begitu lugas terdengar, namun sulit dimaknai. Sebuah hypocrites baru tanpa menutup-nutupi diri, muncul ke permukaan dengan alasan kebaikan, padahal sisi lain dia begitu licik menggerogoti Islam.

Semua kaum muslimin, bahkan kaum non-muslim telah sepakat bahwa inilah hypocrites terbesar yang muncul pada tahun ini. Ini bukan hanya omong kosong yang tak berdasar. Ke-pencundangan-nya telah melebihi batasnya. Mereka berkata mengakui ada nabi setelah Muhammad Saw, yang mana cuma thalut kecil yang bisa mati hanya dengan peluru ketapel kecil. Mengajak orang lain untuk ikut ajaran mereka dengan sembunyi-sembunyi, beralasan mengikuti apa yang telah Muhammad Saw ajarkan, bego..

Kebaikan memang butuh perjuangan. Tapi perjuangan itu terkadang tak cukup baik dilakukan. Itu alasan terpenting kita mengapa kita tidak mulai menghancurkan Ahmadiyah sekarang. Banyak hal yang perlu dipikirkan matang sebelum menang, banyak bukti yang harus dirangkai untuk menangkal sejuta kedustaan di masa datang saat kita maju, memulai sebuah rangkaian peperangan.

Beberapa unit kaum muslimin telah hidup berkobar siap membuka tabir penistaan ini. Banyak diantaranya mengecam, mencaci, bahkan ada pula diantaranya berbuat sebaliknya, mendukungnya, dengan alasan agar Ahmadiyah tidak sempat berkembang luas dalam masyarakat Indonesia yang beriman ini. Sebuah alasan yang masuk akal mengingat rayuan gombalnya yang memikat. Sedangkan sang pengecam, beralasan belum saatnya kita memulai perjuangan, karena Majelis Ulama Indonesia belum menetapkan perjuangan atas hal itu. Wakil Presiden kita pun, Jusuf Kalla, masih menahan masyarakat Indonesia untuk tidak berbuat anarkis, dengan pertimbangan yang cukup masuk akal. Cukup sulit bagi orang yang berpikir bila harus tinggal dalam satu sisi diantaranya. Tapi itu juga bukan alasan yang dapat kita gunakan untuk tidak mengambil posisi dalam kesempatan ini. Berpikirlah, selayaknya anda berpikir untuk kelangsungan hidup anda.. kelangsungan hidup pikiran anda..